Sabtu ,Desember 04 2021

Kartini masa kini, manfaatkan teknologi digital untuk berjuang

Bengkulu  – Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April untuk memperingati jasa kepahlawanan R.A. Kartini, pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Semangat Kartini terus mendarah daging pada setiap generasi dan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, perempuan tidak lagi hanya mengurus rumah tangga, melainkan juga turut berperan dalam roda perekonomian keluarga, daerah, hingga bangsa.

Arni Susanti adalah salah satu contoh Kartini masa kini. Perempuan 33 tahun itu mengelola bisnis keluarga dan menjadi salah satu penggerak ekonomi di Kota Padang, Sumatera Barat.

Arni mendirikan Bengke Paruik, bisnis yang bergerak di industri makanan ringan, sejak 2015. Dibantu oleh tiga orang karyawan, Arni memproduksi camilan marning jagung, serundeng talas dan serundeng ubi. Camilan itu tak cuma dijual di toko fisik, tapi juga lewat toko daring. Arni pun melayani reseller dan pencari konsumen.

Selama enam tahun mengelola bisnis keluarga, Arni menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal, kesulitan mengatur keuangan hingga menurunnya permintaan produk.

Untuk menghadapinya, Arni mengasah kemampuan pemasaran digital dan pengelolaan bisnis melalui berbagai sumber yang mudah ditemukan di Google.

Dari situ, dia mengetahui informasi mengenai program Gapura Digital dan Womenwill dari seorang tim Gapura Digital di Padang pada 2018. Setelah beberapa kali mengikuti kelas Gapura Digital dan Womenwill, Arni terpilih sebagai fasilitator Womenwill di Padang.

Di sini, Arni mengenal Google Primer sebagai aplikasi belajar mengelola bisnis, mendaftarkan Bengke Paruik di Google Bisnisku, dan membangun relasi dengan banyak orang yang kemudian menjadi supplier, pelanggan, hingga reseller. Lebih dari itu, Arni juga berupaya meningkatkan penjualannya dengan memasarkan produknya di media sosial.

Kini, ketika Indonesia tengah mengalami masa ketidakpastian, Arni kembali menghadapi tantangan. Kapasitas produksi terpaksa diturunkan karena Arni meminta karyawannya untuk tetap di rumah dan hanya memproduksi makanan ringan yang bisa dibuat sendiri. Selain itu, pemesanan dari luar kota juga menurun sehingga penjualan di dalam kota yang dimaksimalkan.

Meski tokonya tutup untuk sementara, Arni tetap memasarkan produk yang tersedia secara daring, lewat media sosial, agar konsumen tahu bahwa Bengke Paruik tetap beroperasi di masa pandemi.

Baca Juga

Marak WhatsApp Disadap, Ini Cara Mengamankannya

WhatsApp merupakan aplikasi komunikasi berbasis nomor telepon yang paling banyak digunakan. Tak heran banyak oknum-oknum …