Tuesday ,October 27 2020

Cegah Ideologi Komunis dengan Menghadirkan Kebahagiaan

Oleh : Iwan Hendrawan S.I.P.,M.A.P.

“Hanya dengan kemakmuran paham komunis bisa dibendung” Bung Hatta.

Setiap memasuki akhir bulan September ingatan bangsa ini langsung tertuju kepada tragedi penculikan para jenderal TNI AD 55 tahun silam yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September /PKI 1965. Peristiwa ini sangat membekas hingga saat ini, karena telah memberikan luka yang mendalam tidak saja bagi keluarga korban G 30 S/PKI tetapi juga bagi seluruh anak bangsa. Sejak peristiwa itu kita hidup dengan penuh kontroversi saling caci, mencari kebenaran yang melatarbelakangi peristiwa kelam tsb.

Bersyukurlah bangsa ini yang telah merdeka selama 75 tahun memiliki Pancasila sakti yang telah diwariskan oleh the Fouding Fathers kita sehingga mampu bertahan dan melawan rongrongan ideologi komunis lewat beberapa kali pemberontakannya di tahun 1948 dan 1965. Di samping bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan peristiwa tersebut juga disebut-sebut akan mengubah ideologi Pancasila dengan paham komunis yang berkembang saat itu.

Ideologi komunis mulai genjar disebarkan sejak adanya perang dingin pada tahun 1947 yang membagi dunia dalam dua blok yaitu blok barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan blok timur yang dipimpim oleh Uni Soviet dalam memperebutkan pengaruh negara-negara lain. Dalam perang dingin ini tidak saja pengaruh militer yang diperebutkan namun juga pengaruh politik terutama dalam penyebaran ideologi komunis. Dimana pada bulan September tahun 1947, Uni Soviet membentuk Komimforn suatu biro informasi partai komunis dan pekerja yang bertujuan memperluas gerakan ideologi komunis di dunia internasional. Hal ini tentu saja sangat menggangu Amerika oleh karenanya Presiden AS Harry S. Truman atas desakan dari penasehatnya, agar mengambil langkah-langkah segera dalam melawan pengaruh Uni Soviet tersebut.

Ideologi komunis ini mendapat sambutan tidak saja dari negara sekutu Uni Soviet di eropa namun juga dari dunia ketiga yang masih kebingungan akibat bekas reruntuhan perang dunia ke II, terlebih lagi dimana keadaan ekonomi yang belum jelas terutama kemiskinan. Apalagi bagi negara-negara dunia ke tiga yang baru merdeka sangat anti kolonialisme (blok barat) yang dipresentasikan dengan negara Amerika. Sehingga paham komunis yang dibawa oleh Uni Soviet ini mendapatkan angin dari gerakan-gerakan nasionalis yang menentang kembalinya kolonialisme di dunia yang memunculkan gerakan anti neo imperialisme dan neo kolonialisme seperti di Indocina, Amerika Latin termasuk di Indonesia terbukti dengan berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI).

Adapun tujuan berdirinya sebuah partai politik tentu saja ingin berkuasa apalagi pada pemilu 1955 PKI mendapatkan tempat sebagai partai nomor 4 besar setelah PNI, Masyumi dan NU. Dengan bekal kemenangan ini tentu saja tujuan berikutnya adalah menjadi partai penguasa. Di samping partai islam kekuatan AD adalah menjadi batu sandungan bagi PKI untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Perang dingin ala blok barat dan blok timur pun merembet dalam konstelasi politik indonesia di tahun 60-an itu dalam merebut pengaruh baik dari rakyat juga termasuk dari pemimpin besar revolusi Bung Karno.

Bahkan bung karno pun mengenalkan ideologi barunya yaitu Nasionalis Agama dan Komunis (Nasakom), tentu saja hal ini sangat sulit untuk di wujudkan karena bersatunya ajaran agama dengan komunis merupakan sesuatu yang mustahil dipertemukan karena komunis jauh dari Tuhan oleh karena itu maka muncul pulalah istilah yang terkenal saat itu yaitu “agama adalah candu” oleh karenanya agama (relgiusitas masyarakat) harus dijauhkan. Nasionalis bisa saja bersatu dengan komunis, nasionalis bisa bersatu dengan agama, akan tetapi komunis dengan agama tidak mungkin bersatu apalagi mencampurkan ketiga-tiganya dalam satu ideologi baru.

Hadirkan Kebahagiaan dan Religiusitas Jalan Mencegah Ideologi Komunisme

Ideologi menurut perspektif Alfian yaitu sebuah pandangan dan sistem nilai yang bersifat menyeluruh serta mendalam, tentang hakikat cara-cara yang sebaiknya dilakukan.yang memuat kaidah nilai adil dan benar secara moral, serta menjadi pengatur tingkah laku kolektif masyarakat yang tinggal bersama di suatu lingkup kehidupan. Sementara menurut Dercartes ideologi adalah inti atau pokok dari seluruh pemikiran manusia. Lantas untuk apa ideologi dibuat dan diciptakan? Sebagai sebuah sistem ide yang bercita-cita untuk menjelaskan dunia dan mengubahnya, ideologi dibuat untuk mengarahkan pemikiran manusia dalam memberikan solusi dan perubahan yang ada di tengah masyarakat.

Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa hingga saat ini masih sangat rawan untuk diotak atik atau dirubah dalam beragam cara, bahkan paham komunis yang bersembunyi dibalik semboyan demokrasi. Hal ini juga disinyalir oleh Jenderal (Purn) Gatot Nurmatyo yang menduga bahwa ideologi komunis masih ada dan menjadi ancaman serius bagi bangsa ini oleh karenanya dimasa menjadi Panglima beliau memerintahkan pemutaran film G 30 S /PKI agar generasi muda mengetahui dan memahami sejarah bangsanya terutama peristiwa kelam tersebut.

Tidak bisa dipungkiri peristiwa kelam yang terjadi 55 tahun silam bagi perjalanan bangsa Indonesia sulit untuk dilupakan begitu saja Berbeda dengan peristiwa, pemberontakan-pemberontakan yg pernah ada, percobaan kudeta lewat G 30/ S PKI meninggalkan luka yg mendalam dan membekas hingga saat ini. Dapat pula dikatakan bahwa peristiwa tersebut tiap tahun dibulan September, tidak lepas dari perdebatan mulai dari kalangan elit hingga kalangan “wong alit” (baca orang biasa). Sebagian pengamat menyatakan bahwa keterlibatan PKI sebagai dalang peristiwa tersebut adalah hal yang historical, analisis yang semacam ini memberikan bukti bahwa PKI sejak sebelum Indonesia merdeka memiliki akar kuat melakukan pemberontakan hingga kudeta yang gagal di tahun 1965.

Pada sisi lain adapula yang beranggapan hal ini terjadi sebagai buah konflik internal yang terjadi dalam tubuh AD. Apapun anggapan tersebut menurut penulis cikal bakal peristiwa ini lahir dari pertentangan ideologi yang ada dimasing-masing pihak yang terlibat dalam kumparan dinamika politik, dimana perang ideologi tidak saja yang ada di Indonesia bahkan dunia pada massa itu dalam memperebutkan pengaruh secara militer dan politik dengan adanya kekuatiran bahwa paham komunis akan menguasai Indonesia.

Suatu pandangan yang lain menganggap bahwa pada saat itu persaingan memperebutkan pengaruh dari Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi antara PKI dan AD tidak dapat dihindari. Terlebih usulan PKI untuk mempersenjatai buruh dan tani sebagai angkatan ke lima ditolak mentah-mentah oleh AD menimbulkan “dendam Politik” bagi PKI.

Tetapi apapun semua persoalan yang melatar belakangi peristiwa itu banyak dikaji terus dan diskursus politik yang selalu aktual dan akan selalu up to date selama bulan September tiap tahunnya, adalah bagaimanakah wujud dan bentuk merawat Pancasila dalam masyarakat yang semakin menuntut peningkatan kesejahteraan sebagai mana yang di amanatkan oleh UUD 45.

Sejalan dengan perkembangan dinamika masyarakat yang disebabkan oleh karena semakin meningkatnya tingkat kesadaran politik, peran pemerintah dewasa ini oleh sebagian masyarakat dirasakan belum optimal dalam merawat Pancasila bahkan terkesan jalan di tempat, generasi muda milinial mungkin banyak yang tidak mengetahui atau bahkan paham dengan ideologi bangsa yaitu Pancasila. Akibatnya paham paham –paham lain seperti ideologi komunis sangat rentan untuk bangkit kembali dan mengancam ideologi Pancasila, karenanya banyak generasi muda kita akan terhapus ingatannya terhadap peristiwa tsb sehingga akan mudah terpengaruh dengan simbol-simbol ideologi komunis dengan gaya barunya yang di anggap sebagai sebuah Trend kekinian. Kondisi inilah yang dapat memudahkan lahirnya neo ideologi komunis dan dapat mengancam keberadaan Ideologi Pancasila.

Menurut sejarawan Anhar Gongong, dikatakan bahwa komunis sebagai sebuah partai di Indonesia memang telah mati namun sebagai ideologi dia akan tetap berkembang dan bermetamorfosa di tengah masyarakat mencari bentuk dan celah untuk hidup dan diterima kembali oleh masyarakat. Oleh karena itu celah tersebut harus ditutupi dengan memberikan ruang untuk menghadirkan kesejahteraan dan ruang memberantas kemiskinan di tengah masyarakat jika ini gagal dihadirkan oleh pemerintah maka komunis akan tetap terbuka untuk diterima oleh masyarakat.

Kemiskinan adalah musuh besar bangsa ini yang harus dilawan dengan menghadirkan kemakmuran, ruang-ruang kosong yang membuat perut rakyat lapar, bingung, radikal akan sangat mudah ditunggangi oleh ide-ide baru termasuk ideologi komunis yang menjanjikan kemakmuran yang ditawarkan kepada “wong cilik”. Oleh karena itu sangatlah penting mencegah paham komunis kembali bangkit dengan menghadirkan kebahagian ditengah-tengah masyarakat, terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan rakyat (hadirnya kemakmuran) diharapkan mampu membungkamnya, seperti kata bung Hatta “hanya dengan kemakmuran paham Komunis bisa dibendung”.

Cara terbaik bagi bangsa ini dalam merawat NKRI, Pancasila dan ke-bhinekaan yang ada adalah saling bekerjasama untuk menghadirkan kebahagiaan dan membentuk masyarakat yang religus. Maka keseimbangan hubungan individu dengan individu, individu dengan negara, individu dengan sang pencipta akan terbentuk, sehingga diharapkan dapat membendung paham-paham terorisme, radikalisme terutama tentu saja adalah bangkitnya kembali paham komunisme. (**)

Baca Juga

Yakinkan Pelayanan Berjalan lancar, Wawali Kembali kunjungi Kantor Dinas Dukcapil

Bengkulu,InfoPublik – Usai menjadi Irup peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pramuka ke 59 tahun 2020 …