Jumat ,Oktober 22 2021

Berawal Dari Anda Untuk Konten Positif, Kalau Bukan Anda Siapa Lagi?

Penyebaran konten hoaks mengenai Covid-19 di media sosial rupanya masih marak di negeri ini. Dari pemantauan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sejak 23 Januari 2020 hingga 13 Juli 2021 sedikitnya terjaring 1.739 konten hoaks seputar Covid-19.

Pengaduan masyarakat atas konten menyesatkan maupun disinformasi tersebut cukup tinggi. Dari sebaran 3.785 pengaduan, sebanyak 3.342 konten di-take down (dihapus tayangannya). Sebanyak 13 kasus sudah diproses ke penegak hukum.

Ada beragam informasi hoaks berseliweran di medsos terkait Covid-19. Sebarannya di pelbagai platform seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram. Misalnya, berita “Stadion Maguwoharjo dan Mandala Krida akan Dijadikan Rumah Sakit Darurat Covid-19”, “Video Mayat Korban Covid-19 Bergerak”, dan “Nama dan Kontak PMI Jika Membutuhkan Plasma Konvalesen”.

Bahkan, ada juga yang menyebarkan hoaks “Bocoran Rapat di Istana Covid-19 Sengaja Dimainkan untuk Mengontrol dan Menakuti Pribumi”. Menyikapi hal itu, tokoh muda Papua, Steve Rick Elson Mara, mengatakan, penetrasi internet yang luar biasa ke Indonesia dalam beberapa tahun ini mengakibatkan sejumlah informasi hoaks tentang Covid-19 pun memengaruhi sebagian anak muda di Papua. Seperti hoaks mengenai soal status pandemi Covid-19 maupun seputar vaksinasi.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, menurut Magister dari Universitas Pertahanan itu, informasi hoaks bagai menentang program vaksinasi nasional memakai narasi yang menampilkan para tokoh nasional, para politikus, dan pesohor atau figur publik. Meskipun, belum tentu yang bersangkutan menyampaikan narasi seperti itu. Biasanya, informasi hoaks memutarbalikkan atau mengutip sebagian fakta saja.

“Akibatnya terjadi ketidakpercayaan kepada kebijakan pemerintah yang ditimbulkan karena informasi hoaks. Masyarakat menjadi tidak patuh pada kebijakan pemerintah. Ini membuat jumlah pasien Covid meninggal jadi lebih banyak. Maka mari anak muda bijak bermain medsos. Cari informasi dari sumber terpercaya,” ungkap Steve dalam “Forum Diskusi Publik: Bijak dalam Bersosmed dan Lawan Hoaks di Masa Pandemi COVID-19″ pada Senin (12/7/2021).

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi I DPR, Yan Permenas Madenas meminta masyarakat khususnya generasi muda di masa pandemi mewaspadai banyaknya informasi hoaks yang berkembang atau biasa disebut infodemik. Lalu munculnya kasus-kasus kejahatan siber.

Oleh karena itu, Komisi I DPR terus mendukung kampanye literasi digital publik melalui penguatan legislasi dengan Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Di samping itu, pihaknya terus mengawal program percepatan transformasi digital yang dilakukan pemerintah melalui pembangunan infrastruktur digital khususnya di daerah 3T.

Narasumber lainnya, dosen Fikom Universitas Esa Unggul Jakarta, Gun Gun Siswadi menerangkan, mengurangi keberadaan konten hoaks dan negatif di dunia maya adalah dengan terus membanjiri medsos dengan konten positif.

Masa pandemi Covid-19 ini, sebaiknya memperbanyak konten positif di ruang digital agar masyarakat semakin produktif di masa mewabahnya virus global Covid-19 di dalam negeri.

Menurut Gun Gun, adanya konten yang positif, tentunya akan menumbuhkan semangat pengguna dunia digital dalam negeri di berbagai platform ketika melakukan aktivitas di ruang-ruang digital. Mengingat, dari ruang digital tersebut masyarakat dapat tetap melakukan serangkaian upaya produktif di masa merebaknya virus corona.

Beberapa hal produktif yang dapat dilakukan di media sosial, antara lain, berbisnis online, mempromosikan produk dan jasa, mencari informasi dan iptek, panduan berolahraga serta cara hidup sehat, menambah jaringan perkawanan, saling berbagi bantuan sosial hingga mencari peluang pekerjaan baru.

Mengawasi Konten

Mengingat pentingnya hal tersebut, saat ini pemerintah tengah melakukan serangkaian upaya yang dilakukan dalam memastikan ruang digital Indonesia dipenuhi oleh informasi positif. Terdapat dua kebijakan yang tengah secara masif dilakukan oleh Kominfo yakni penanganan konten negatif dan mencanangkan gerakan Literasi Digital.

Kementerian Kominfo telah membentuk tim yang khusus mengawasi setiap konten yang berada di berbagai aplikasi platform digital. Tim ini yang akan melakukan tugasnya melakukan penanganan konten negatif dengan cara mengawasi ruang digital tersebut melakukan pengawasan atau patroli di ruang digital selama 24 jam setiap harinya.

Tim tersebut akan melakukan kegiatan blokir kepada akun atau situs yang terindikasi memiliki konten negatif. Juga akan meluruskan setiap informasi yang tidak benar atau negatif yang dimiliki oleh suatu situs maupun akun. Lalu, tim itu juga menindaklanjuti informasi tidak benar melalui jalur hukum.

Literasi Digital

Selanjutnya, mulai 2021, Kementerian Kominfo memberikan pelatihan kepada 12,4 juta pengguna ruang digital untuk mengikuti program literasi digital. Pelatihan yang diberikan kepada masyarakat pengguna ruang digital di dalam negeri mencakup pengetahuan tentang Budaya Bermedia Digital, Aman Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Cakap Bermedia Digital.

“Empat jenis pelatihan ini, diharapkan akan membawa perubahan yang signifikan terhadap berbagai perilaku masyarakat pengguna ruang digital di dalam negeri,” pungkas Gun Gun Siswadi, mantan Staf Ahli Menteri Kominfo 2016-2019 tersebut.

Sumber :
https://www.indonesia.go.id/kategori/budaya/3033/banjiri-medsos-dengan-konten-positif

Baca Juga

Alasan Investasi Crypto Asset Makin Digemari

Investasi Crypto Asset Makin Naik Daun Crypto asset makin digemari. Terlepas dari perannya dalam merevolusi …