Jumat ,Oktober 22 2021

Bagaimana Cara Kerja Cryptocurrency

Bitcoin adalah salah satu mata uang digital yang disebut dengan cryptocurrency. Mata uang digital ini jumlahnya ada ribuan dan setiap hari terus bertambah. Bitcoin adalah teknologi mata uang yang pertama kali diciptakan, karenanya mata uang digital lain yang diciptakan setelahnya disebut altcoin (alternatif coin atau koin alternatif). Altcoin inilah yang jumlahnya ribuan tadi.

Lalu bagaimana dengan OVO, GoPay, Dana, dan layanan keuangan digital lainnya yang sudah sering kita pakai saat ini? Apakah termasuk mata uang digital? Jawabannya adalah bukan. OVO, GoPay, dkk adalah layanan dompet digital. Mata uang nya tetap rupiah, tetapi disimpan di dompet digital tersebut agar memudahkan kita bertransaksi di platform belanja online. Sementara itu Bitcoin memiliki dompet digital sendiri yang disebut Bitcoin wallet.

Sebelum lanjut kita pelajari dulu cara kerja mata uang konvensional, rupiah misalnya. Semua transaksi yang menggunakan rupiah, baik menggunakan kartu kredit, kartu debit, atau bayar langsung cash, semua itu merupakan transaksi terpusat atau centralized. Artinya semua transaksi yang berhubungan dengan rupiah ada yang mengendalikan, contohnya adalah nilai rupiah itu sendiri. Nilai rupiah selalu naik dan turun menyesuaikan pasar dengan tetap mendapat kontrol dari negara agar tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi. Saat kita bertansaksi dengan rupiah, kita harus menyerahkan uang ke pengelola transaksi. Inilah yang disebut centralized. Dengan adanya kontrol dari pihak-pihak yang mengelola tadi memang transaksi jadi cenderung lebih aman. Namun sistem ini memiliki efek samping, yaitu kita tidak punya kontrol terhadap uang yang kita miliki. Misal saat kita transaksi lewat bank, kita menyerahkan uang ke pihak bank, kita tidak tahu bagaimana cara mereka mengelolanya, kita hanya mendapat rekening dengan jumlah saldo, kita tidak tahu apakah uang kita benar-benar ada atau tidak. Bitcoin dan cryptocurrency lainnya menawarkan sistem transaksi yang berbeda, yaitu sistem tidak terpusat atau decentralized.

Saat kita menyimpan uang di bank, akun dan password kita dikelola oleh pihak bank, sehingga memungkinkan saat lupa password kita bisa menghubungi pihak bank tersebut. Sistem ini memiliki kelemahan, yaitu apabila ada peretas yang mampu membobol sistem bank, maka mereka punya akses ke semua rekening. Berbeda dengan Bitcoin, saat kita masuk ke jaringan Bitcoin, kita akan mendapat satu alamat wallet dan passwordnya. Alamat dan password ini hanya kita yang tahu dan kita wajib mencatat dan menyimpan sendiri karena hanya muncul sekali seumur hidup dan tidak dapat diubah-ubah. Apabila kita lupa, cryptocurrency milik kita tidak dapat digunakan. Hal ini yang membuat cryptocurrency jauh lebih aman.

Sistem desentralisasi bekerja dengan menggunakan ledger. Ledger merupakan buku catatan yang isinya mencatat semua transaksi yang dilakukan. Ledger bertugas mencatat dan menjadi saksi berlansungnya transaksi, bukan mengontrol jalannya transaksi. Cryptocurrency terbentuk dari dua kata yaitu crypto dan currency. Kata crypto diambil diambil dari kriptograpi, yaitu suatu sistem yang melindungi informasi atau komunikasi dengan memberikan kode sebagai kunci dan hanya bisa dibuka oleh orang yang mengetahui kunci tersebut. Dalam transaksi cryptocurrency, setiap orang yang bertransaksi memiliki dua kunci, yaitu kunci privat dan kunci publik. Dua kunci ini apabila digunakan bersama dapat membentuk digital signature (tanda tangan digital). Digital signature ini dapat menjadi bukti bahwa kita pemilik sahnya. Namun cara ini belum cukup aman, disinilah ledger bekerja. Ledger akan bertindak sebagai saksi sekaligus memverifikasi bahwa transaksi tersebut sah.

Mekanisme saksi dan verifikasi transaksi ini dilakukan dengan cara menyelesaikan kalkulasi matematis. Semakin besar jaringan sebuah cryptocurrency maka semakin banyak kalkulasi yang harus diselesaikan, semakin besar juga computing power yang dibutuhkan. Per April 2021 sistem keamanan Bitcoin Network sudah sangat besar mencapai lebih dari 170 Exahash per detik. Bahkan altcoin Ethereum yang usianya jauh lebih muda sudah mencapai 550 Terahash per detik. Angka ini sudah jauh lebih besar dari computing power yang digunakan oleh Google. Untuk mendapatkan computing power sebesar itu, cryptocurrency tidak menggunakan sebuah super komputer melainkan sistem peer-to-peer network. Peer-to-peer network menggabungkan banyak komputer yang biasa-biasa saja untuk menggantikan tugas sebuah super komputer. Komputer peer ini adalah komputer milik para miner atau penambang yang jumlahnya banyak dari seluruh dunia.

Tadi sudah disinggung bahwa digital signature saja belum cukup aman, masih harus digabungkan lagi description dan history, baru akan terbentuk sebuah ­blok transaksi. Blok transaksi ini akan disebar ke semua miner sebagai saksi transaksi. Contohnya apabila suatu transaksi melibatkan 10 miner maka satu blok tadi akan dibagi ke 10 miner. Para miner ini bertugas menyelesaikan kalkulasi matematis untuk memverifikasi bahwa isi blok sudah sesuai. Disinilah letak keamanan dari cryptocurrency. Apabila ada hacker yang berusaha memainkan transaksi, maka dia harus meretas semua blok di 10 miner sekaligus, kurang 1 saja yang gagal diretas blok akan langsung dibatalkan. Begitu 10 miner sudah sepakat blok adalah benar, maka transaksi akan diteruskan dan blok yang baru diselesaikan tadi akan digabungkan  dengan blok-blok sebelumnya dan setelah itu blok baru akan muncul untuk diproses lebih lanjut. Sistem blok yang saling bersangkutan ini disebut blockchain.

Baca Juga

Alasan Investasi Crypto Asset Makin Digemari

Investasi Crypto Asset Makin Naik Daun Crypto asset makin digemari. Terlepas dari perannya dalam merevolusi …